KOROPAK.CO.ID – Di pesisir Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kehidupan sehari-hari penduduknya selalu dekat dengan laut. Aktivitas seperti para ibu yang berbelanja ikan segar di pantai atau minum moke sambil menyiapkan rumpu rampe adalah pemandangan akrab yang sarat keceriaan.
Gambaran inilah yang hidup dalam lirik lagu daerah Ikan Nae di Pante, sebuah karya musik yang lahir dari budaya lokal dan kini menjelma fenomena nasional.
Dibawakan oleh Alfred Gare bersama PAX Group, lagu ini awalnya dikenal di lingkup masyarakat NTT. Namun, arus media sosial, terutama TikTok, melambungkan namanya hingga menembus batas daerah.
Irama yang riang dan lirik sederhana membuatnya kerap digunakan sebagai musik latar video, mengiringi tarian hingga senam kreasi. Bahkan, iklan produk minuman berenergi di siaran liga sepak bola nasional pun ikut memanfaatkan daya tariknya.
Secara tematik, Ikan Nae di Pante memotret harmoni kehidupan masyarakat pesisir: kebersamaan, kerja keras, dan rasa syukur atas alam yang kaya. Lirik seperti “Mama Mama Dong Turun Beli Ikan di Pante” tak hanya sekadar bait lagu, tetapi juga dokumentasi budaya yang merekam dinamika sosial di NTT.
Baca: Menggali Filosofi Kue Manggulu dari NTT
Popularitasnya merambah berbagai daerah dan acara. Pada November 2024, pelataran Kantor Bupati Gorontalo Utara dipenuhi peserta lomba senam Ikan Nae di Pante dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah.
Di Kabupaten Sintang, Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama menggelar seleksi lomba senam dengan lagu ini untuk menyambut perhelatan olahraga dan seni tingkat nasional.
Puncak pengakuan datang ketika Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI pada 8 Agustus 2025 mengangkat Ikan Nae di Pante menjadi bagian dari Senam Kreasi Budaya dalam acara di Lapangan Graha Kemenpora.
Dengan dukungan organisasi seperti Dharma Wanita Persatuan, Kormi, dan FOKBI, ratusan peserta didominasi perempuan dari berbagai usia, berlatih gerakan senam yang memadukan olahraga dengan kebanggaan budaya lokal.
Sekretaris Kemenpora, Gunawan Suswantoro, bahkan memuji kekompakan peserta dan mendorong pengembangan senam ini hingga tingkat dunia. Dari pantai-pantai di Flores hingga gedung kementerian di Jakarta, Ikan Nae di Pante kini bukan sekadar lagu daerah, melainkan simbol bagaimana budaya lokal dapat menjadi energi pemersatu bangsa.











