KOROPAK.CO.ID – Tidjah bukan sekadar perempuan Madura biasa. Namanya tercatat dalam arsip kolonial Belanda sebagai salah satu penerima Kruis van Verdienste, medali kehormatan berbentuk bintang perunggu yang diberikan atas jasa dan kesetiaan.
Penghargaan itu datang bukan karena ia bertempur di garis depan, melainkan karena perannya dalam Barisan Tjakra, satuan bentukan Belanda di Surabaya pasca-Perang Dunia II.
Sekitar tahun 1946, Belanda membentuk Barisan Tjakra yang beranggotakan lebih dari 400 orang, mayoritas laki-laki asal Madura. Pasukan ini diproyeksikan untuk menopang operasi militer Belanda di Jawa Timur hingga Madura. Di tengah formasi itu, hadir sosok Tidjah, seorang perempuan yang mengambil peran logistik, khususnya dalam menyuplai amunisi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari laman detiktravel, menurut penuturan pegiat sejarah Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo, posisi Tidjah memang bukan sebagai pasukan inti, melainkan pendukung.
Namun, justru peran pendukung inilah yang membuatnya diganjar medali kehormatan. Dari tahun 1946 hingga 1949, Tidjah tercatat ikut dalam sejumlah operasi militer Belanda, termasuk dalam dua Agresi Militer.
Keterlibatan Tidjah dan Barisan Tjakra, menurut Kuncarsono, tak bisa serta-merta dimaknai sebagai pengkhianatan. Situasi saat itu jauh dari sederhana. Pada penghujung 1940-an, wilayah Republik Indonesia hanya bertahan di sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian selatan.
Sementara sebagian besar daerah lain berada di bawah kontrol Belanda. Di tengah realitas ini, banyak pribumi yang bergabung dalam pasukan bentukan Belanda, entah karena terdesak ekonomi atau sekadar mencari penghidupan.
Baca: Jejak Perlawanan Teuku Umar di Tanah Syuhada
Fenomena tersebut bukan hanya khas Madura. Sejak era kolonial, tentara bayaran dari berbagai daerah di Nusantara kerap dikerahkan dalam konflik yang dikendalikan kekuatan asing. Dari Ambon, Minahasa, hingga Solo, semua pernah punya sejarah serupa.
Bahkan dalam penaklukan Aceh, pasukan dari berbagai daerah juga dilibatkan. Bagi Kuncarsono, apa yang dilakukan Tidjah lebih tepat dipahami sebagai langkah ekonomi, bukan sikap politik.
Hal serupa terjadi pula di belahan dunia lain. Inggris, misalnya, merekrut pasukan Gurkha dari Nepal untuk mendukung operasi militernya. Dalam konteks inilah, Tidjah lebih tepat disebut sebagai tentara bayaran ketimbang simpatisan kolonial.
Setelah Konferensi Meja Bundar tahun 1949 yang menandai pengakuan kedaulatan Indonesia, para anggota Barisan Tjakra, termasuk Tidjah, memperoleh pengampunan.
Kebijakan rekonsiliasi nasional memberi amnesti bagi mereka yang pernah berpihak pada Belanda. Berbeda dengan ribuan tentara KNIL asal Ambon yang kemudian memilih migrasi ke Belanda, Tidjah tetap berada di tanah air.
Kisah Tidjah, dengan demikian, menyingkap satu sisi lain dari sejarah kemerdekaan: bahwa garis antara nasionalisme dan ekonomi kerap kabur, dan bahwa para pelaku sejarah tidak selalu bisa ditakar dengan hitam-putih pengkhianatan atau kesetiaan.











