Koropak.co.id – Tasikamalaya – Polres Tasikmalaya dipenuhi ratusan pelajar dari berbagai sekolah, termasuk anak-anak difabel. Mereka hadir dalam gerakan Rise and Speak, kampanye yang digagas Polres Tasikmalaya untuk mengajak anak-anak berani bersuara, terutama saat menjadi korban kekerasan.
Kapolres Tasikmalaya, AKBP Haris Dinzah, menegaskan perlindungan anak tidak bisa dibebankan pada satu lembaga saja. “Harus bersinergi. Semua elemen masyarakat harus terlibat untuk menciptakan lingkungan ramah anak,” ujarnya.
Polres Tasikmalaya, kata Haris, siap membuka pintu laporan lewat berbagai jalur komunikasi. Ia menekankan, kasus kekerasan anak bukan persoalan kecil, melainkan tanggung jawab bersama untuk ditangani serius.
Baca: Sinergi Pemkot dan Polres Tasikmalaya Kota dalam Menangani Kenakalan Remaja
Gerakan Rise and Speak juga mendapat dukungan dari Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya pembangunan manusia ketimbang sekadar pembangunan fisik. CNY juga menyinggung ancaman kecanduan gawai pada anak. Pemkab, lanjutnya, akan menerbitkan surat edaran untuk membatasi penggunaan ponsel di sekolah, sementara orang tua diminta lebih ketat mengawasi anak di rumah.
Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, menyebut kesadaran masyarakat untuk melapor kini semakin tinggi. “Setiap kasus anak, kami pastikan prosesnya mudah, cepat, dan gratis. Tidak ada istilah harus bayar di Polres,” tegasnya. Ia menambahkan, 95 persen kasus yang ditangani berhasil diselesaikan, dan itu jadi motivasi bagi masyarakat untuk tidak takut melapor.
Momentum Rise and Speak pun menjadi pengingat, bahwa melindungi anak dari kekerasan bukanlah kerja sampingan, melainkan kewajiban bersama.
Baca: Pimpinan Ponpes Nurul Jihad Tasik Kritik Minimnya Kepedulian Pejabat terhadap Anak Yatim











