Muasal

Sebelum Belanda, Portugis Awali Jejak Kolonialisme di Nusantara

×

Sebelum Belanda, Portugis Awali Jejak Kolonialisme di Nusantara

Sebarkan artikel ini
Sebelum Belanda, Portugis Awali Jejak Kolonialisme di Nusantara
Doc. Foto: Leavco

KOROPAK.CO.ID – Penjajahan sering meninggalkan luka sekaligus membentuk karakter bangsa. Sebelum Belanda menancapkan kekuasaannya selama tiga setengah abad, Portugis lebih dulu membuka jalan kolonialisme Eropa di Nusantara.

Kehadiran mereka lahir dari dorongan eksplorasi samudra pasca jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani pada 1453. Dengan tujuan menemukan jalur baru menuju rempah-rempah, Portugis dan Spanyol menavigasi lautan dengan misi tiga G yakni Gold, Glory, dan Gospel yakni kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama Katolik.

Ekspedisi Awal dan Perebutan Malaka

Pada Juli 1497, Raja Manuel I mengutus Vasco da Gama memimpin ekspedisi besar dari Lisabon. Setahun kemudian, 1498, rombongan tiba di India, menancapkan padrao sebagai tanda klaim kekuasaan. Meski Goa membuka peluang dagang, pusat rempah tetap jauh.

Informasi tentang Malaka, simpul perdagangan Asia Tenggara, mendorong Portugis menyerbu kota itu pada 1511 di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Keberhasilan ini menandai dimulainya kolonialisme Eropa di Asia Tenggara.

Maluku: Rempah dan Misi Katolik

Dari Malaka, Portugis bergerak ke timur. Tahun 1512, Francisco SerrĂ£o tiba di Maluku dan menjalin hubungan dengan Sultan Ternate yang bersaing dengan Tidore. Dalam kesepakatan monopoli perdagangan, Portugis menawarkan bantuan militer.

Imbalannya, mereka mendapat hak dagang cengkih dan pala, sekaligus mulai menyebarkan agama Katolik. Komunitas Katolik di Ternate tercatat mulai tumbuh pada periode ini.

Baca: Sejarah Heroik: Saat Sultan Baabullah Usir Portugis

Perlawanan dan Kejatuhan Kekuasaan

Namun, dominasi Portugis menimbulkan ketegangan. Keserakahan mereka memicu konflik, puncaknya pada 1570 ketika Sultan Hairun dibunuh. Putranya, Sultan Baabullah, memimpin perlawanan dan mengepung benteng Portugis selama lima tahun. Pada 1575, Portugis berhasil diusir dari Maluku dan hanya bertahan di Timor Timur.

Kekuasaan mereka di Indonesia berlangsung singkat, sekitar enam dekade, hingga kedatangan Belanda dan serangan VOC pada 1605 yang menandai dimulainya era kolonial Belanda.

Warisan yang Masih Hidup

Meskipun kekuasaan Portugis telah lenyap, pengaruhnya tetap terasa. Musik keroncong, kosakata sehari-hari, meja, sabun, pesta, Minggu, dan nama keluarga seperti da Costa, Dias, Rodriguez di Maluku dan Nusa Tenggara Timur menjadi jejak budaya.

Agama Katolik yang diperkenalkan Portugis juga kini tumbuh subur di timur Indonesia. Bangunan peninggalan mereka, seperti Benteng Tolukko dan Benteng Kalamata di Ternate serta Penjara Kema di Minahasa Utara, masih berdiri sebagai saksi sejarah.

Jejak Portugis mengingatkan bahwa kolonialisme di Nusantara bukan hanya cerita Belanda. Dari perebutan rempah hingga benteng tua yang kini jadi objek wisata, warisan mereka tetap hidup dalam denyut budaya dan identitas bangsa Indonesia.

error: Content is protected !!