Seni Budaya

Dukka Ronjangan, Permainan Tradisional Madura yang Lahir dari Irama Panen Petani

×

Dukka Ronjangan, Permainan Tradisional Madura yang Lahir dari Irama Panen Petani

Sebarkan artikel ini
Dukka Ronjangan, Permainan Tradisional Madura yang Lahir dari Irama Panen Petani
Doc. Foto: Pusaka Jawatimuran

KOROPAK.CO.ID – Di sebuah desa di Bangkalan, Madura, aroma gabah kering bercampur dengan debu tanah yang hangat. Di antara tumpukan padi yang baru dipanen, terdengar bunyi berulang: “duk… ka… duk… ka…”. Itulah suara dukka ronjangan, permainan tradisional yang lahir dari tangan-tangan petani perempuan di Pulau Garam.

Permainan ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah cermin dari sebuah masa ketika kerja keras dan kegembiraan berpadu dalam satu hentakan alu pada ronjangan, wadah kayu tempat menumbuk padi.

Dari sanalah nama permainan ini berasal: “Dukka” berarti membunyikan alu, sementara “Ronjangan” adalah wadah tempat alu itu diketukkan. Bila digabung, keduanya bermakna sederhana namun puitis: membunyikan ronjangan.

Lahir dari Sawah dan Syukur Panen

Dukka ronjangan lahir di tengah musim panen, saat sawah-sawah Madura berwarna keemasan dan tawa para petani menggema. Pada masa itu, kaum perempuan bertugas menumbuk padi secara bergantian. Namun, di sela kerja yang berat, mereka menemukan sesuatu: irama.

Dengan mengatur tempo tumbukan alu, mereka menciptakan bunyi yang berulang dan berpola. Semula sekadar iseng, namun lama-kelamaan irama itu berubah menjadi seni bunyi, sebuah musik rakyat yang tumbuh dari kerja dan kebersamaan.

Tak ada kompetisi, tak ada lawan. Dukka ronjangan murni tentang kebersamaan tentang bagaimana kerja bisa menjadi pesta, dan suara bisa menyalakan semangat. Bagi masyarakat Madura, ini adalah perayaan kecil atas syukur panen, sekaligus bentuk solidaritas perempuan desa.

Dari Sawah ke Panggung

Baca: Bal Budi, Permainan Sederhana dari Madura yang Penuh Nilai Kebersamaan

Seiring berjalannya waktu, dukka ronjangan menapaki jalan baru. Ia tak lagi hanya dimainkan di ladang, tetapi juga dalam berbagai hajatan masyarakat: pernikahan, khitanan, hingga acara budaya desa.

Permainan ini berubah menjadi pertunjukan, sebuah seni rakyat yang menggambarkan semangat perempuan Madura: tangguh, kompak, dan penuh daya hidup.

Biasanya, permainan ini dimainkan oleh 11 orang perempuan yang berdiri berjajar di sepanjang ronjangan. Masing-masing memegang alu, lalu menumbuknya bergantian dengan pola ritme tertentu.

Dari sentuhan kayu ke kayu itu, lahirlah musik yang hidup, sederhana namun memikat. Tak jarang, bunyinya berpadu dengan nyanyian atau sorakan penonton yang larut dalam suasana.

Nada-Nada dari Masa Lalu

Kini, di tengah gempuran hiburan modern dan teknologi digital, dukka ronjangan perlahan bergeser ke pinggir. Tak banyak anak muda yang mengenal permainan ini, apalagi memainkannya. Namun di beberapa pelosok Madura, masih ada kelompok ibu-ibu dan remaja putri yang menjaga tradisi ini tetap berbunyi.

Bagi mereka, dukka ronjangan bukan sekadar permainan, ia adalah warisan ingatan kolektif. Sebuah cara untuk mengingat masa ketika suara kerja menjadi nyanyian, dan setiap tumbukan alu di ronjangan adalah tanda kehidupan yang terus berdenyut di tanah Madura.

error: Content is protected !!