KOROPAK.CO.ID – Apakah Kawan pernah mencicipi segelas es kapal, minuman tradisional khas Solo yang namanya terdengar unik, namun sama sekali tak berbentuk kapal? Di balik kesederhanaannya, minuman ini menyimpan cerita panjang tentang tradisi, kenangan, dan cita rasa yang nyaris punah.
Es kapal diyakini sudah hadir sejak era 1950-an, di tengah geliat kota Solo yang kala itu mulai tumbuh sebagai pusat kebudayaan dan perdagangan di Jawa Tengah.
Di masa itu, gerobak penjual es kapal mudah dijumpai di sudut-sudut kota, terutama saat siang hari yang terik. Namun kini, keberadaannya semakin jarang terlihat. Satu demi satu penjual menepi, tersisih oleh arus minuman modern dan tren kekinian.
Meski demikian, jejaknya belum sepenuhnya hilang. Ada saja warga Solo yang berusaha menjaga resep dan kenangan minuman manis ini agar tak tenggelam bersama waktu. Bahkan, Kawan bisa membuatnya sendiri di rumah dengan bahan sederhana.
Dari Gerobak Lancip hingga Nama “Es Kapal”
Nama es kapal ternyata punya kisah menarik. Dalam buku Kuliner Tradisional Solo yang Mulai Langka karya Dawud Achroni, disebutkan bahwa penamaan minuman ini berasal dari bentuk gerobak para penjualnya.
Dulu, para pedagang membawa gerobak dengan ujung yang lancip menyerupai haluan kapal. Dari situlah istilah es kapal lahir, sebuah penamaan yang sederhana, tetapi melekat kuat di ingatan masyarakat Solo.
Secara tampilan, es kapal tak jauh berbeda dengan es campur. Dalam satu gelasnya, tersaji es serut, sirop coklat buatan sendiri, dan sepotong roti tawar yang menjadi ciri khasnya. Sirop coklat yang digunakan pun dibuat secara tradisional dari bahan dasar gula jawa, menghasilkan rasa manis gurih yang khas dan aroma karamel yang lembut.
Baca: Menelusuri Jejak Cabuk Rambak, Kuliner Tua dari Kota Solo
Sensasi segarnya bukan hanya menghapus dahaga, tapi juga menghadirkan rasa nostalgia tentang masa ketika anak-anak menunggu penjual es kapal lewat sambil mendorong gerobak kayu di bawah matahari Solo yang hangat.
Dari Populer ke Langka: Nasib Es Kapal di Masa Kini
Pada masa jayanya, sekitar tahun 1950-an hingga 1970-an, es kapal termasuk jajanan populer di kalangan warga Solo. Hampir di setiap sudut kota, mudah dijumpai penjual yang setia mendorong gerobaknya. Kini, pemandangan itu menjadi langka.
Hanya segelintir pedagang yang masih setia menjaga resep turun-temurun ini. Karena itu, bila Kawan berkunjung ke Solo dan kebetulan menemukan penjual es kapal, jangan ragu untuk mencicipinya. Dalam kesederhanaan segelas minuman ini, tersimpan sejarah panjang tentang cara masyarakat menjaga rasa, tradisi, dan kenangan masa lalu.
Kembali ke Dapur: Meracik Es Kapal Sendiri
Bagi yang penasaran ingin mencoba, es kapal bisa dibuat sendiri di rumah. Bahannya mudah ditemukan: es serut, sirop coklat dari gula jawa, dan roti tawar. Paduan sederhana itu cukup untuk menghidupkan kembali cita rasa klasik Solo yang nyaris terlupakan.
Satu seruputannya membawa kita kembali ke masa ketika kuliner tak hanya soal rasa, tetapi juga cerita tentang identitas dan warisan budaya.











