Seni Budaya

Beranyam Tikar di Desa Tepal, Simbol Budaya dan Ketekunan Wanita Sumbawa

×

Beranyam Tikar di Desa Tepal, Simbol Budaya dan Ketekunan Wanita Sumbawa

Sebarkan artikel ini
Beranyam Tikar di Desa Tepal, Simbol Budaya dan Ketekunan Wanita Sumbawa
Doc. Foto: Indonesia Kaya

KOROPAK.CO.ID – Saat musim kemarau, para wanita di Desa Tepal, Sumbawa, sibuk menanam dan memanen sawah maupun kebun. Namun ketika hujan turun dan pekerjaan di ladang surut, mereka tak tinggal diam. Aktivitas beranyam pun menjadi pilihan, sekaligus warisan budaya yang telah turun-temurun.

Kegiatan itu bukan sekadar hiburan di sela waktu senggang. Beranyam menjadi bagian tak terpisahkan dari rumah masyarakat Sumbawa. Dari generasi ke generasi, keahlian ini diajarkan dari ibu ke anak perempuan. Hasil anyaman tidak hanya mempercantik rumah, tapi juga memiliki fungsi praktis dan nilai ekonomi yang nyata.

“Tak suka menganggur,” kata seorang warga, menuturkan semangat para ibu yang melekat dalam setiap helaian daun pandan yang mereka jalin.

Anyaman tikar menjadi tipe paling dasar dan populer, karena selain fungsional, proses pembuatannya juga menyenangkan dan mengikat hubungan sosial antarperempuan.

Proses pembuatan tikar dimulai dari pemilihan daun pandan. Daun dipetik, dipotong, disayat, dan dijemur hingga kaku. Beberapa diwarnai terlebih dahulu, hijau, merah, ungu, atau putih sebelum dijalin menjadi pola geometris, flora, fauna, bahkan figuratif manusia.

Baca: Mengenal Sarung Tenun Kresesek Khas Pulau Sumbawa

Setiap tikar, selain menjadi alas duduk atau tidur, mencerminkan ketekunan dan kerja sama para wanita desa. Tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, anyaman dari Sumbawa kini berkembang menjadi produk ekonomi.

Keranjang, tas, topi, dan hiasan dinding dihasilkan dari keahlian beranyam ini. Anyaman dikenal kuat dan tahan lama; beberapa keranjang mampu menampung puluhan kilogram hasil panen. Bahkan, beberapa produk dijual hingga kota besar, dan tak jarang diekspor, membuka peluang penghasilan bagi keluarga.

“Kerajinan tangan anyaman dari Sumbawa adalah suatu kebanggaan,” kata seorang warga.

Setiap jalinan daun menyimpan dedikasi wanita, cerminan ketekunan, cinta keluarga, dan penghargaan pada budaya. Di Desa Tepal, para ibu Suku Samawa tidak hanya meneruskan tradisi, tetapi juga menjaga kearifan lokal yang memberi makna sosial, budaya, dan ekonomi bagi komunitas.

error: Content is protected !!