Actadiurna

Mendagri Jelaskan Alasan Pemda Aceh Tengah Kesulitan Atasi Banjir dan Longsor

×

Mendagri Jelaskan Alasan Pemda Aceh Tengah Kesulitan Atasi Banjir dan Longsor

Sebarkan artikel ini
Mendagri Jelaskan Alasan Pemda Aceh Tengah Kesulitan Atasi Banjir dan Longsor
Doc. Foto: Suaraglobal.id

KOROPAK.CO.ID – JAKARTA – Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menanggapi pernyataan Bupati Aceh Tengah yang mengaku tidak mampu menangani bencana banjir dan longsor di wilayahnya. Tito menilai ketidakmampuan tersebut merupakan kondisi yang wajar mengingat akses menuju daerah terdampak benar-benar terputus.

“Contohnya di Takengon, itu Aceh Tengah menyampaikan bahwa dia tidak mampu melayani, ya memang enggak akan mampu. Enggak akan mungkin. Karena apa? Karena dia sendiri tertutup (akses),” ujar Tito dalam konferensi pers, Senin (1/12).

Ia mengatakan kemampuan kepala daerah menjadi terbatas ketika akses fisik tidak memungkinkan. “Ada Kepala Daerah yang menyatakan tidak sanggup, ya gimana mau sanggup? Jadi teman-teman wartawan datang ke lokasi dan lihat sendiri,” imbuhnya.

Bantuan Udara dan Pengiriman Logistik

Tito menjelaskan bahwa wilayah Aceh membutuhkan dukungan pangan yang harus dikirim melalui udara karena jalur darat tidak bisa dilalui. “Dia perlu untuk dukungan satu, pangan. Pangannya harus diambil dari luar, menggunakan pesawat. Dia enggak punya pesawat. Maka otomatis minta bantuan kepada pemerintah provinsi atau pemerintah pusat,” tutur Tito.

Baca: BNPB Ungkap Korban Meninggal Banjir dan Longsor di Sumut–Sumbar–Aceh Tembus 442 Orang

Ia menegaskan pemerintah pusat akan mengambil alih pengiriman bantuan tersebut. Tito menyebut pengiriman logistik direncanakan dilakukan lewat udara dari Jakarta dan Medan.

Jalan Putus dan Mobilisasi Alat Berat

Menurut Tito, Pemda Aceh Tengah juga tidak memiliki kapasitas mobilisasi alat berat dalam skala besar untuk memperbaiki infrastruktur.

“Bagaimana mungkin kemampuan Pemda Aceh Tengah untuk melakukan mobilisasi alat berat, untuk memperbaiki jembatan, memperbaiki jalan-jalan yang pecah, patah, memperbaiki yang longsor, tertutup. Terkunci dari utara, dari Lhokseumawe, juga terkunci dari selatan. Jadi jalan-jalannya betul-betul putus,” jelasnya.

Tito meminta publik memahami konteks kondisi nyata di lapangan, bukan hanya melihat dokumen resmi. “Jadi tolong teman-teman juga kalau melihat satu surat, jangan hanya melihat suratnya saja, lihat kondisinya. Kondisinya enggak akan mungkin mampu,” sambungnya.

error: Content is protected !!