KOROPAK.CO.ID – S.K. Trimurti atau Soerastri Karma Trimurti dikenal sebagai tokoh perempuan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan penulis, jurnalis, aktivis politik, dan guru yang meninggalkan jejak kuat dalam dunia pers maupun pergerakan nasional, khususnya dalam memperjuangkan ruang bagi perempuan.
Biografi S.K Trimurti
Trimurti lahir di Desa Sawahan, Boyolali pada 11 Mei 1912. Ia merupakan anak dari R.Ng. Salim Banjarsari Mangunsuromo dan Raden Ayu Saparinten Mangunbisomo, keduanya termasuk abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta.
Pendidikan formalnya dimulai di Ongko Loro atau Tweede Inlandsche School (TIS), kemudian berlanjut ke sekolah perempuan Meisjes Normaal School (MNS) di Solo selama empat tahun. Trimurti kemudian berprofesi sebagai pengajar di Sekolah Latihan.
Di samping mengajar, ia terlibat dalam Rukun Wanita serta aktif mengikuti kegiatan Budi Utomo di Banyumas. Aktivisme itu kemudian menghantarkannya pindah ke Bandung dan bergabung dengan Partindo cabang Bandung, yang kala itu aktif menggelar rapat dan terbuka bagi anggota baru.
Pada 1993, Trimurti bersama Sanusi Pane mendirikan Perguruan Rakyat di Pasirkaliki, Bandung. Ia mengajarkan siswa untuk mencintai tanah air, membangun harga diri, dan menolak penjajahan. Perguruan ini ditentang pemerintah kolonial Belanda dan Trimurti dikenakan larangan mengajar atau onderwijs verbond.
Perjalanan di Dunia Pers
Karier jurnalistik Trimurti berawal dari dorongan Presiden Soekarno yang memintanya menulis sebuah artikel di Harian Fikiran Rakjat. Awalnya engan, Trimurti akhirnya menulis opini pertamanya mengenai semangat kemerdekaan dalam situasi penjajahan Belanda.
Pada tahun 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende Flores, Trimurti terus melanjutkan kiprahnya melalui media lain seperti Berdjoeang di Surabaya, serta berkontribusi untuk berbagai majalah dan surat kabar, termasuk Suara Marheni, media khusus perempuan pada tahun 1938.
Bersama suaminya, Sayuti Melik, Trimurti mendirikan media massa Pesat. Namun pada 1939, media itu dibredel dan Trimurti dipenjara di Blitar hingga 1943 karena kritiknya yang dianggap menyudutkan Jepang.
Pada tahun 1960, Trimurti kembali aktif menulis di Harian Rakjat dan Api Kartini, kali ini menggunakan nama pena Mak Ompreng. Pada 1972, ia menerbitkan majalah kebatinan berjudul Mawas Diri.
Baca: Riwayat LN Palar, Diplomat Ulung yang Gaungkan Kemerdekaan RI di PBB
Kiprah di Politik dan Organisasi
Mengutip catatan dalam Jurnal Sejarah dan Budaya, perjalanan politik Trimurti dimulai sejak ia bergabung dengan Partindo pada 1933 dan berguru langsung pada Soekarno. Pandangan politiknya yang tajam membuatnya berkali-kali ditangkap dan diinterogasi.
Pada 1935, Trimurti pindah ke Yogyakarta dan bersama Sri Panggihan mendirikan Pengurus Besar Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI), organisasi yang memfokuskan diri pada pendidikan politik bagi perempuan Indonesia.
Ia juga bergabung dengan Gerindo, yang kemudian mempertemukannya dengan Sayuti Melik.
Selama masa persiapan kemerdekaan, Trimurti turut mengikuti rapat-rapat BPUPKI dan menyebarkan berita proklamasi ke daerah-daerah. Ia juga menjadi anggota KNIP yang membantu tugas presiden sebelum terbentuk DPR dan MPR.
Setelah kemerdekaan, Trimurti aktif dalam Partai Buruh Indonesia dan memimpin BBW (Barisan Buruh Wanita), organisasi yang mendorong pendidikan politik bagi kaum perempuan.
Kisah Ketahanan dan Perjuangan
Trimurti dikenal dengan ketegasan dan keberanian dalam mengabaikan vergader-verbod — larangan berkumpul dan berapat pada masa kolonial Belanda. Ia justru mengorganisasi pertemuan umum perempuan hingga akhirnya ditangkap dan menjadi incaran polisi Belanda.
Trimurti juga menjadi salah satu tokoh yang mendesak agar proklamasi kemerdekaan dilakukan secara mandiri. Ia terlihat dalam foto detik-detik proklamasi yang diabadikan Alex Mendur dan Frans Mendur di Pegangsaan Timur No 56 Jakarta.
Pasca proklamasi, Trimurti diangkat menjadi Menteri Perburuhan pada kabinet Amir Sjarifoeddin. Di masa jabatannya, ia melahirkan kebijakan penting seperti Undang-Undang Kecelakaan No.33 tahun 1947.
Warisan pemikiran dan perjuangan S.K. Trimurti, baik dalam bidang pers maupun politik, menjadi inspirasi bagi perjuangan hak-hak perempuan dan kemerdekaan berpikir di Indonesia.











