Memoar

Mengenal Pastor Verbraak, Sosok di Balik Patung Ikonik Taman Maluku Bandung

×

Mengenal Pastor Verbraak, Sosok di Balik Patung Ikonik Taman Maluku Bandung

Sebarkan artikel ini
Mengenal Pastor Verbraak, Sosok di Balik Patung Ikonik Taman Maluku Bandung
Doc. Foto: Wikipedia

KOROPAK.CO.ID – Bagi masyarakat Bandung, Patung Pastor Verbraak di Taman Maluku telah lama menjadi salah satu ikon Kota Kembang. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa sosok yang diabadikan lewat patung tersebut, Pastor Henricus Christiaan Verbraak, sejatinya tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di wilayah Priangan.

Henricus Christiaan Verbraak lahir di Rotterdam pada 24 Maret 1835. Dalam perjalanan hidupnya, Verbraak sempat bercita-cita menjadi pedagang.

Pilihan hidupnya berubah ketika pada usia 27 tahun ia memutuskan untuk menempuh pendidikan teologi. Setelah ditahbiskan menjadi pendeta pada 1869, Verbraak menetapkan pengabdiannya sebagai misionaris di wilayah Hindia Belanda.

Tugas pertamanya membawanya ke Padang. Verbraak tiba di kota tersebut pada 15 Oktober 1872. Namun penugasan itu tak berlangsung lama. Dua tahun kemudian, pada 29 Juni 1874, ia dikirim ke Aceh, wilayah yang saat itu masih berada dalam pusaran Perang Aceh.

Di Aceh, Verbraak menjalankan tugasnya dalam kondisi serba terbatas. Ia tinggal di sebuah gubuk sederhana yang sekaligus menjadi tempat pelayanannya.

Dari tempat itulah ia melayani sekitar 2.000 orang, dengan 1.500 di antaranya merupakan tentara. “Sampai tahun 1877 Verbraak harus tinggal di sebuah gubuk sederhana yang sekaligus menjadi tempat pelayanannya,” dinukil dari Dunia Aleut.

Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian penguasa militer Aceh saat itu, Van der Heyden. Ia memberikan izin untuk mendirikan bangunan yang lebih layak. Pembangunan gereja pun dimulai pada 5 Februari 1884. Gereja tersebut dibangun menggunakan kayu berkualitas tinggi dan memiliki struktur yang lebih kokoh dibandingkan bangunan sebelumnya.

Pada Hari Raya Paskah, gereja itu mulai digunakan. Kelak, bangunan tersebut dikenal sebagai Gereja Katolik pertama di Aceh. “Gereja ini menjadi Gereja Katolik pertama di Aceh dan setelah mengalami perombakan pada tahun 1924, masih tetap berdiri hingga saat ini,” tuturnya.

Masa-masa pengabdian Verbraak di Aceh kian padat, terutama pada periode 1896–1897. Setiap malam, kereta-kereta tiba di Kutaraja membawa korban luka maupun meninggal akibat perang.

“Jika satu kereta memasuki Kutaraja, pastor Verbraak menunggu di depan. Setelah semua korban masuk ke rumah sakit, Verbraak siap di samping tempat tidur mereka untuk menghibur dan menguatkan mereka,” ungkapnya.

Verbraak juga dikenal tak gentar menghadapi risiko. Ia menjenguk pasien kolera meski berpeluang tertular. Bahkan, ia hadir di tengah hujan peluru untuk menenangkan dan menguatkan para tentara di medan pertempuran. Bagi umat Katolik di Aceh kala itu, Pastor Verbraak dipandang sebagai sosok bapak yang penuh kasih.

Baca: Ali Alatas, Singa ASEAN dan Jejak Panjang Diplomasi Indonesia di Panggung Dunia

Ia juga memberi perhatian besar kepada anak-anak yatim piatu korban perang. Verbraak berupaya mencarikan panti asuhan atau orang tua angkat bagi anak-anak yang terlantar.

“Semua instansi di Aceh dihimbau Verbraak untuk memenuhi kewajiban mereka sebagai umat Tuhan supaya membantu anak-anak yatim piatu ini. Kepedulian pastor Verbraak kepada anak-anak ini membuatnya dicintai semua orang,” jelasnya.

Penghormatan masyarakat terhadap Verbraak tampak dalam berbagai kesempatan. Ketika ia hendak berkunjung ke suatu tempat, satu batalyon dengan 30 bayonet yang dipimpin seorang sersan keluar dari benteng untuk menjemputnya. Setibanya di benteng, Verbraak disambut layaknya sahabat lama.

Atas dedikasinya selama 25 tahun sebagai pendeta, pemerintah Belanda menganugerahkan gelar Ridder in de Orde van den Nederlandsche Leeuw (Ksatria dalam Orde Singa Belanda) kepada Verbraak.

Ia juga menerima Medali Aceh dan Bintang Ekspedisi. “Van Heutsz menjadikan Verbraak, pendeta Jesuit ini, sebagai teladan untuk anak buahnya sebelum berangkat bertugas,” tegasnya.

Setelah 33 tahun mengabdi tanpa henti, Verbraak memutuskan berhenti bekerja. Usianya saat itu telah mencapai 77 tahun, dan ia merasa saatnya menyerahkan tugas kepada generasi yang lebih muda. Meski fisiknya masih relatif kuat, penglihatannya kian memburuk.

Setelah pensiun, Verbraak menetap di Magelang, Jawa Tengah. Di kota militer tersebut, kondisi kesehatannya perlahan menurun. Banyak pihak menawarkan pengobatan, namun Verbraak menolaknya.

“It is old of age. I have lived in good health for 80 years and in the Holy Scripture is written ‘labor et dolor est’ … My old body does not need a nurse; that is too costly,” ujarnya.

Pada 1915, Verbraak merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Perayaan itu mendapat perhatian besar dari masyarakat Magelang. Tiga tahun kemudian, ia meninggal dunia. “Jasadnya dikubur dengan upacara kehormatan militer. Musik duka terdengar di hati ribuan masyarakat yang berkabung,” paparnya.

Meski namanya kini diabadikan dalam bentuk patung di Bandung, jejak hidup Pastor Verbraak lebih banyak terukir di Padang, Aceh, dan Magelang, wilayah-wilayah yang menjadi saksi pengabdian panjang seorang misionaris di tengah perang dan krisis kemanusiaan.

error: Content is protected !!