KOROPAK.CO.ID – Aceh tidak hanya terkenal dengan kenikmatan kopi robusta dan arabika-nya, tapi juga memiliki minuman tradisional khas yang menjadi variasi dari sajian kopi, yakni kopi sanger.
Minuman ini menjadi salah satu kuliner yang patut dicoba bagi wisatawan yang berkunjung ke Aceh dan sekitarnya, karena tidak umum dijumpai di daerah lain di Indonesia.
Sekilas, tampilan kopi sanger mirip dengan kopi susu, namun terdapat perbedaan mendasar, terutama pada proses pembuatannya.
Asal Usul Kopi Sanger
Kopi sanger tercipta dari interaksi antara penjual dan pembeli di masa lalu. Dilansir dari laman Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, minuman ini lahir dari kreativitas pedagang untuk menghadirkan minuman alternatif dengan harga lebih terjangkau.
Pada saat itu, pembeli harus memilih antara kopi atau susu agar bisa menikmati minuman yang ramah di kantong.
Para pedagang kemudian menciptakan kopi sanger sebagai menu baru, yang memungkinkan pembeli mendapatkan kopi dan susu secara bersamaan. Nama “Sanger” sendiri merupakan akronim dari “same-same ngerti” atau “sama-sama mengerti,” yang merujuk pada kesepakatan antara penjual dan pembeli terkait harga terjangkau dan sajian kopi yang nikmat.
Baca: Menguak Tradisi Pertanian Kopi yang Terjaga Selama 400 Tahun di Aceh
Mirip Kopi Susu tapi Beda
Bahan dasar kopi sanger tidak jauh berbeda dengan kopi susu, yakni kopi, susu, dan gula. Namun, perbedaannya tampak pada takaran susu yang lebih sedikit dibandingkan kopi susu biasa, serta teknik penyeduhannya yang menyerupai teh tarik.
Bubuk kopi dimasukkan ke dalam saringan kain, kemudian disiram air panas ke sebuah wadah, dan dituang bergantian ke wadah lain sebelum dituangkan ke cangkir. Terakhir, susu dan gula ditambahkan lalu diaduk hingga terbentuk buih, yang menjadi ciri khas kopi sanger.
Bagian dari Budaya Aceh
Bagi masyarakat Aceh, minum kopi lebih dari sekadar melepaskan dahaga. Kopi menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya.
Menurut laman AEKI AICE, kopi sering disajikan dalam acara keluarga maupun pertemuan adat sebagai simbol silaturahmi. Teknik penyajian yang diwariskan secara turun-temurun juga menjadi bagian dari khazanah kuliner Aceh.
Kopi sanger, dengan cita rasa khas dan buih di permukaannya, bukan hanya minuman, tetapi juga representasi budaya dan kreativitas masyarakat Aceh dalam menyajikan kopi.











