Muasal

Kue Inti, Kudapan Tradisional Minangkabau yang Pernah Mengisi Upacara Adat

×

Kue Inti, Kudapan Tradisional Minangkabau yang Pernah Mengisi Upacara Adat

Sebarkan artikel ini
Kue Inti, Kudapan Tradisional Minangkabau yang Pernah Mengisi Upacara Adat
Doc. Foto: Baking World

KOROPAK.CO.ID – Kue inti merupakan salah satu jajanan tradisional khas Sumatera Barat yang kini semakin jarang dijumpai. Kudapan ini dahulu dikenal luas dan kerap hadir dalam berbagai kegiatan adat masyarakat Minangkabau, terutama di wilayah Bukittinggi dan Agam.

Seiring perubahan pola konsumsi dan berkurangnya pembuat kue tradisional, kue inti perlahan menghilang dari peredaran. Meski demikian, pengetahuan mengenai jajanan ini masih tercatat dalam literatur kuliner dan menjadi bagian dari warisan budaya pangan Sumatera Barat.

Dalam buku Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera) disebutkan bahwa kue inti dulunya dikenal dengan nama kue inti mudo. Jajanan ini lazim disajikan dalam pesta pernikahan. Ungkapan “pergi makan inti mudo” bahkan pernah menjadi penanda seseorang akan menghadiri hajatan pernikahan.

Di daerah lain, kue serupa dikenal dengan nama berbeda. Di Tanah Datar, misalnya, masyarakat menyebutnya sebagai buah kubang. Perbedaan penamaan ini menunjukkan penyebaran kue inti di beberapa wilayah Sumatera Barat, meski dengan sebutan yang beragam.

Nama kue inti sendiri merujuk pada bentuk dan isi kudapan tersebut. Kue ini memiliki isian di bagian tengah yang menjadi “inti” dari sajian, berupa parutan kelapa bercampur gula, yang kemudian dibungkus adonan tepung beras.

Baca: Lamang Katan, Kudapan Tradisional Khas Minangkabau yang Menggugah Selera

Secara bahan, kue inti dibuat dari tepung beras sebagai lapisan luar, sementara bagian dalamnya diisi parutan kelapa. Proses pembuatannya terbilang panjang dan dapat memakan waktu hingga sekitar lima jam. Durasi ini jauh lebih lama dibandingkan banyak jajanan tradisional lainnya.

Proses yang memakan waktu tersebut berbanding lurus dengan cita rasa yang dihasilkan. Bagian luar kue inti memiliki tekstur lembut dan rasa legit, sementara bagian dalamnya menghadirkan perpaduan gurih dan manis dari kelapa dan gula.

Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, kue inti tidak hanya dikonsumsi sebagai kudapan sehari-hari. Jajanan ini juga menjadi bagian dari sajian dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, takziah, hingga acara turun mandi. Biasanya, kue inti disajikan bersama aneka jajanan tradisional lain dan disantap oleh para tamu.

Kini, meski keberadaannya semakin langka, kue inti tetap menjadi penanda kekayaan kuliner tradisional Sumatera Barat. Pengetahuan mengenai bahan, proses pembuatan, dan fungsi sosial kue ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan kuliner daerah agar tidak sepenuhnya hilang ditelan zaman.

error: Content is protected !!