Koropak.co.id, Jakarta – Krakatau merupakan gunung tipe kaldera vulkanik yang terletak di Selat Sunda, selat yang berada antara Pulau Jawa dan Sumatra. Dengan ketinggan 813 meter diatas permukaan laut (mdpl), Krakatau dikenal dunia karena catatan sejarah erupsinya yang panjang. Salah satunya terjadi pada 1883-an.
Tercatat, letusan Krakatau saat itu setidaknya menyebabkan perubahan iklim global hingga sempat membuat dunia diselimuti kegelapan selama dua setengah hari. Selain itu, letusan yang berdampak hingga ke benua Eropa ini juga disebut-sebut sebagai letusan terdahsyat pada masanya.
Dilansir dari laman inilah.com, adapun letusan pertama dari Gunung Krakatau terjadi pukul 1 siang pada 26 Agustus 1883 dengan ketinggian mencapai 15 mil. Letusan kala itu juga membentuk abu vulkanik dengan awan gas panas beserta puing-puing di dalamnya.
Tak berhenti sampai disana saja, Krakatau kembali aktif lewat serangkaian ledakan yang semakin kuat pada 27 Agustus dengan puncak ledakannya yang terjadi sekitar pukul 10 pagi.
Baca: Legenda Selat Sunda dan Gunung Krakatau, Konon Tercipta Karena Raja Marah
Dengan daya ledak sebesar 200 megaton yang menggetarkan seluruh dunia, Krakatau melontarkan abu sekitar 50 mil ke udara disertai tsunami setinggi 120 kaki.
Akibat kejadian ini, setidaknya 165 desa di sekitar Jawa dan Sumatra hilang tak tersisa. Selain itu juga sebanyak 36.000 jiwa turut menjadi korban hingga meregang nyawa karena letusan dahsyat dari gunung tersebut.
Pasca letusan ini terjadi, Gunung Krakatau membentuk kompleks kepulauan Krakatau dengan empat pulau yang terdiri dari Pulau Panjang, Pulang Sertung, Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau.
Pulau-pulau tersebut merupakan sisa dari pembentukkan kaldera. Namun, satu diantaranya merupakan gunung api aktif yang dikenal dengan Gunung Anak Krakatau. Anak Krakatau mulai tumbuh dari 1930-an, dan sampai saat ini tingginya telah mencapai 305 meter diatas permukaan laut (mdpl).











