Muasal

Mengenal Putu Bumbung, Jajanan Tradisional Solo yang Kini Kian Langka

×

Mengenal Putu Bumbung, Jajanan Tradisional Solo yang Kini Kian Langka

Sebarkan artikel ini
Mengenal Putu Bumbung, Jajanan Tradisional Solo yang Kini Kian Langka
Doc. Foto: desa-barongan.id

KOROPAK.CO.ID – Kue putu merupakan salah satu jajanan tradisional yang dikenal luas di Indonesia. Di Solo, Jawa Tengah, kudapan ini memiliki sebutan khas: putu bumbung. Meski serupa dengan kue putu di daerah lain, putu bumbung menyimpan keunikan tersendiri, baik dari sisi nama, cara pembuatan, maupun tradisi penjualannya.

Putu bumbung dibuat dari tepung beras dengan isian gula merah. Menurut Dawud Achroni dalam buku Kuliner Tradisional Solo yang Mulai Langka, penamaan putu bumbung merujuk pada alat utama yang digunakan dalam proses pembuatannya, yakni bumbung, bilah bambu yang berfungsi sebagai cetakan kue.

Selain bumbung, alat yang digunakan tergolong sederhana. Penjual biasanya memanfaatkan kompor dan kaleng bekas kemasan minyak goreng yang telah dilubangi sebagai alat pengukus. Air yang dipanaskan di dalam kaleng menghasilkan uap panas untuk mematangkan adonan.

Seiring waktu, keberadaan penjual putu bumbung kian berkurang. Jajanan tradisional khas Solo ini tidak lagi mudah dijumpai setiap saat. Penjualnya umumnya laki-laki berusia lanjut yang berkeliling menggunakan sepeda, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Baca: Kue Putu, Kudapan Manis Khas Jawa yang Awalnya Ditemukan di Cina

Putu bumbung lazim dijajakan pada malam hari. Kehadiran penjual kue ini kerap ditandai bunyi khas “tuuut… tuuut… tuuut” yang terdengar saat mereka melintas. Bunyi tersebut berasal dari uap kukusan yang keluar dari cetakan bambu, sekaligus menjadi penanda bagi warga yang ingin membeli.

Proses pembuatan putu bumbung kerap menarik perhatian pembeli. Adonan tepung beras yang telah dicampur parutan kelapa dimasukkan ke dalam cetakan bumbung. Setelah setengah penuh, penjual menambahkan gula merah yang telah disisir halus, lalu menutupnya kembali dengan adonan hingga penuh.

Cetakan bambu itu kemudian disusun di atas kaleng bekas berisi air yang dipanaskan. Uap dari air mendidih akan mematangkan kue sekaligus menghasilkan bunyi khas selama proses pengukusan berlangsung.

Dari segi rasa, putu bumbung menawarkan perpaduan manis dan gurih. Rasa manis berasal dari gula merah yang meleleh di dalam kue, sementara gurih muncul dari parutan kelapa yang dicampur dalam adonan. Di Solo, putu bumbung kerap dinikmati sebagai kudapan sore atau malam hari, ditemani secangkir teh atau kopi.

error: Content is protected !!