Koropak.co.id – Haji Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far, yang lebih dikenal dengan nama Ebiet G. Ade, adalah seorang musisi dan penulis lagu asal Indonesia yang lahir pada tanggal 21 April 1955.
Ebiet G. Ade dikenal luas atas karya-karya musiknya yang mengangkat tema alam dan kisah-kisah duka kelompok yang tersisihkan dalam masyarakat.
Melalui lagu-lagu bergenre folk pop, country, dan soft rock, yang sering kali dihadirkan dalam format balada, Ebiet berhasil menggambarkan realitas kehidupan Indonesia dari akhir tahun 1970-an hingga saat ini.
Karya-karya musiknya mencakup beragam tema, termasuk alam, sosial-politik, bencana, aspek religius, dan dinamika keluarga, di antara banyak lainnya. Sentuhan musikalitasnya tidak hanya memikat pendengarnya tetapi juga membawa inovasi dalam dunia musik pop Indonesia.
Hal yang mencolok adalah bahwa semua lagu yang diciptakan oleh Ebiet G. Ade adalah hasil karyanya sendiri, dengan pengecualian dua lagu, yaitu “Surat dari Desa” yang ditulis oleh Oding Arnaldi dan “Mengarungi Keberkahan Tuhan” yang ia ciptakan bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Nama “Ebiet G. Ade” sendiri berasal dari pengalaman uniknya saat mengikuti kursus Bahasa Inggris. Guru Bahasa Inggris yang merupakan orang asing kesulitan dalam memanggilnya dengan nama aslinya, “Abid” Ghoffar. Akibat perbedaan logat, Abid kemudian sering dipanggil “Ebiet” oleh teman-temannya. Dalam Bahasa Inggris huruf “A” dibaca seperti “E”, sehingga nama “Ebiet G. Ade” diambil dari penggabungan ini.
Ebiet mengungkapkan bahwa ia lahir di Wanadadi, Banjarnegara, sebagai anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), sedangkan ibunya adalah seorang pedagang kain.
Baca: Mengenang Penyanyi Legendaris Pop Minang, Elly Kasim
Meskipun pada awalnya memiliki beragam cita-cita, seperti menjadi insinyur, dokter, atau pelukis, Ebiet akhirnya menemukan panggilan dalam dunia seni, yang lebih tepatnya dalam kepenyairan dan musik.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ebiet melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Banjarnegara. Namun, karena beberapa alasan, ia kemudian pindah ke Yogyakarta.
Di Yogyakarta, ia menempuh pendidikan di SMP Muhammadiyah 3 dan kemudian melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Selama di SMA, ia aktif dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII).
Meskipun memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Ebiet akhirnya memilih bergabung dengan grup vokal setelah mendapatkan saran dari ayahnya yang seorang pensiunan.
Namun, perubahan besar dalam hidupnya terjadi saat ia mulai belajar gitar dari kakaknya, Ahmad Mukhodam, dan kemudian mengikuti kursus gitar di Yogyakarta dengan bantuan seorang guru bernama Kusbini.
Awalnya, ia hanya tampil dalam pertunjukan seni lokal di Yogyakarta dan sekitarnya, memusikalisasikan puisi-puisi karya tokoh seperti Emily Dickinson dan Nobody. Namun, dorongan dari teman-teman di Persada Studi Klub (PSK) dan rekan satu kosnya akhirnya mengubahnya menjadi seorang musisi yang berani mengejar karier di dunia musik Nusantara.
Setelah mengalami penolakan berkali-kali dari berbagai label rekaman, Ebiet akhirnya diterima oleh Jackson Record pada tahun 1979. Pada bulan Mei tahun yang sama, ia merilis album debutnya yang berjudul “Camellia I,” yang diproduseri oleh Jackson Arief.
Pada awal kariernya, ia menggunakan nama “Ebiet G AD,” singkatan dari Ghoffar dan Aboe Dja’far, namun kemudian nama tersebut disederhanakan menjadi “Ebiet G. Ade.”
Berkat prestasinya di dunia musik, Ebiet berhasil memenangkan beberapa penhargaan seperti, Penghargaan Diskotek Indonesia (1981), Penyanyi solo dan balada terbaik Anugerah Musik Indonesia (1997), Penghargaan Peduli Award Forum Indonesia Muda (2006), Penyanyi kesayangan Siaran Radio ABRI (1989-1992) dan lainnya.
Sayangnya sang legendaris musik telah meninggal pada 21 April 2023, di usinya yang ke 69 tahun. Meskipun dirinya sudah tiada namun, karya-karya ciptaannya akan tetap dikenang dan diingat di hati par penggemarnya.











