Koropaka.co.id – Sarwendah Kongtesha seorang perempuan berusia 21 tahun, menemukan panggilan hatinya untuk mengajar di pelosok Indonesia setelah terinspirasi oleh tayangan acara Kick Andy.
Kisah para guru muda di Indonesia Mengajar yang bekerja di daerah terpencil, seperti yang diprakarsai oleh Anies Baswedan, membuatnya yakin bahwa dia juga ingin memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan di wilayah-wilayah terluar.
Setelah lulus dari Jurusan Matematika, Universitas Negeri Manado, pada tahun 2013, Sarwendah mendaftar dalam program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Program ini mirip dengan Indonesia Mengajar dan menjadi langkah awalnya untuk menyongsong misi mengajar di pelosok-pelosok terpencil.
Meskipun pertama kali mendapat penolakan dari ayahnya, Sarwendah berhasil merayu dan meyakinkan keluarganya untuk mendukung keputusannya. Tiba di desa Wai Kela, kecamatan Adonara Tengah, kabupaten Flores Timur, pada September 2013, Sarwendah dihadapkan pada realitas baru yang begitu kontras dengan kehidupan perkotaan Manado.
Meskipun sebagai seorang Muslim yang datang ke desa mayoritas Katolik, Sarwendah dengan cepat beradaptasi dan memutuskan untuk mengenakan hijab setelah berkonsultasi dengan teman-temannya. Dukungan dari teman-teman sekaligus istri kepala sekolah menjadi bukti toleransi dan kebersamaan di lingkungan yang beragam.
Baca: P.K. Ojong, Pionir Kompas Gramedia asal Sumatera Barat
Dalam kesehariannya, Sarwendah menjadi guru Matematika di SMP Negeri 1 Desa Wai Kela Adonara Tengah. Meskipun awalnya mengajar enam kelas, dengan masuknya guru tambahan, dia fokus mengajar empat kelas. Namun, ketika guru agama Islam menghadapi kendala, Sarwendah dengan tulus mengambil alih tugas sebagai guru agama Islam.
Kehadiran Sekolah Dasar Kristen Wai Bereno di desanya menambah tanggung jawabnya. Meski baru memiliki satu kelas, Sarwendah menyadari bahwa memberikan pendidikan dasar yang berkualitas akan membentuk karakter anak-anak. Ia pun menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, memberikan waktu ekstra untuk murid-muridnya, baik melalui kerja bhakti, mengangkut air saat kemarau, atau memberikan les tambahan di luar jam sekolah.
Kendekatan personal dan metode pengajaran yang efektif membuat murid-muridnya hormat dan cepat memahami pelajaran. Meskipun sebagai guru muda, Sarwendah mampu mendapatkan kepercayaan dan penghargaan dari para muridnya. Pada sore hari, murid-muridnya menantinya untuk pelajaran tambahan di halaman SMP Negeri 1. Mereka belajar dengan semangat, bahkan saat listrik padam, mereka tetap menggunakan lilin untuk terus belajar.
Anak-anak di desa memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Sarwendah. Namun, kepergiannya setelah pulang sekolah membuatnya merasa kesepian. Suara riuh murid-murid yang tiba-tiba hilang membuat suasana desa begitu sunyi. Namun, kehadiran mereka, dengan nyanyian lagu gereja dan keceriaan, menjadi hiburan dan penghibur bagi Sarwendah di tengah kehidupan yang terpencil.
Dalam tiga bulan lagi, Sarwendah akan menyelesaikan satu tahun tugasnya sebagai guru SM3T di Wai Kela. Ia berharap program ini dapat diperpanjang menjadi dua tahun, memberikan lebih banyak waktu bagi adaptasi dan memungkinkan penempatan dua guru di satu lokasi. Sarwendah juga menyoroti pentingnya memberikan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan melalui program kerja para guru SM3T di komunitas setempat.
Meskipun tugasnya di pelosok desa Adonara akan berakhir, Sarwendah berharap masih banyak anak-anak muda yang bersedia meninggalkan kenyamanan hidup di kota untuk mengabdikan diri di daerah terpencil demi membangun negeri. Keberhasilannya dan kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk turut berkontribusi dalam dunia pendidikan Indonesia.
Baca juga: Sultan Hamid II, Pencipta Garuda Pancasila dari Pontianak











