Koropak.co.id, Jakarta – Tidak banyak organisasi yang bertahan hingga berusia ratusan tahun. Dari yang sedikit itu, Pagoejoeban Pasoendan atau Paguyuban Pasundan adalah salah satunya. Pada 20 Juli 1913, Paguyuban Pasundan secara resmi berdiri atas inisiatif para siswa Sunda STOVIA.
Didasari rasa solidaritas etnis Sunda, khususnya yang berada di Jawa Barat, Pagoejoeban Pasoendan didirikan untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia.
Berpijak pada jejak historis, secara tidak langsung kelahiran Paguyuban Pasundan dipengaruhi oleh pendirian Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Pendirian organisasi itu pun dianggap sebagai tonggak awal dari kebangkitan bangsa Indonesia untuk menggapai kemerdekaan.
Awalnya, cukup banyak orang Sunda yang bergabung dalam organisasi tersebut, hingga membuat cabang-cabang Boedi Oetomo banyak bermunculan di Jawa Barat. Akan tetapi dalam beberapa tahun kemudian, keanggotaan orang Sunda dalam Boedi Oetomo justru menurun drastis.
Penurunan itu terjadi akibat mereka yang berpikir bahwa organisasi tersebut hanya memuaskan penduduk Jawa Tengah dan Jawa Timur saja, khususnya dari segi sosial-budaya. Maka dibentuklah Pagoejoeban Pasoendan yang kali pertama dipimpin Daeng Kanduruan Ardiwinata, pria kelahiran Bandung pada 1866.
Di saat guncangan di internal Boedi Oetomo semakin mencuat, sejumlah anggotanya yang berasal dari tatar Sunda menemui Ardiwinata di kediamannya di Gang Paseban, Salemba. Di sana mereka berdiskusi sejenak dan menyepakati dibentuknya sebuah organisasi bernama Paguyuban Pasundan pada 18 Juli 1913.
Baca: Sekilas IPM, Lahir di Tengah Situasi Politik yang Sulit
Dua hari kemudian, yakni 20 Juli 1913, Pagoejoeban Pasoendan akhirnya secara resmi didirikan, dan Ardiwinata, seorang sastrawan yang saat itu bekerja sebagai pendidik dan juga menjabat sebagai redaktur kepala pun dipercaya sebagai pemimpinnya.
Adapun siswa STOVIA yang masuk dalam jajaran kepengurusan Paguyuban Pasundan periode pertama sendiri yaitu, Dajat Hidayat sebagai wakil ketua, Koesoema Soedjana sebagai bendahara, dan Raden Junjunan serta M Iskandar sebagai komisarisnya.
Selama keberadaannya, organisasi ini telah banyak bergerak di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, hingga pemberdayaan perempuan.
Tak hanya itu, paguyuban ini juga berupaya untuk terus melestarikan budaya Sunda dengan melibatkan bukan hanya orang Sunda, tapi juga semua yang mempunyai kepedulian terhadap budaya Sunda.
Setelah semua organisasi dibubarkan Jepang pada 8 Maret 1942, kemudian disambung dengan masa revolusi, pada 1949-an Paguyuban Pasundan bangkit lagi dengan nama Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI). Lalu, pada 1959, organisasi ini kembali memakai nama Paguyuban Pasundan.
Sampai sekarang Paguyuban Pasundan masih eksis dan berkiprah di bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, serta pemberdayaan perempuan.
Silakan tonton berbagai video menarik di sini:











