Seni Budaya

Mempelajari Sejarah Husain bin Ali bin Abi Thalib dari Tari Tabot

×

Mempelajari Sejarah Husain bin Ali bin Abi Thalib dari Tari Tabot

Sebarkan artikel ini

Koropak.co.id, Bengkulu – Irama Dol atau bedug dan alat musik tradisional lainnya bergema layaknya genderang perang. Tampak juga para penari, dengan busana warna cerah, bergerak lincah dan menari menggambarkan kisah kepahlawanan cucu Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam, Husain bin Ali bin Abi Thalib beserta pasukannya dalam peperangan melawan pasukan Ubaidillah bin Zaid di Padang Karbala.

Gambaran itu pun tersaji dalam sebuah tarian khas Bengkulu yang dikenal dengan nama Tari Tabot. Tari Tabot sendiri merupakan tari kreasi baru yang menggambarkan upacara tabot atau tabut dengan inti dari tariannya adalah menceritakan kisah kepahlawanan Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Sementara itu, kata “tabot” berasal dari bahasa Arab yang artinya “peti mati”. Meskipun begitu dalam perayaannya, tabot tersebut ditujukan untuk menyebut sebuah bangunan serupa pagoda atau menara masjid bertingkat yang terbuat dari kayu atau bambu. 

Nantinya, tabot itu akan diarak oleh sejumlah orang dalam perayaan. Dalam pertunjukan tari tabot, biasanya para penari akan mengenakan pakaian adat Bengkulu berupa baju longgar berlengan pendek, celana panjang, dan hiasan kepala yang semuanya berwarna cerah dan senada. 

Menariknya, dalam tarian ini, baik perempuan maupun laki-laki diperbolehkan untuk ambil bagian. Tak hanya itu saja, para penari juga turut mengenakan aksesoris kepala yang menyerupai tabot, mahkota, membawa tongkat, dan selendang.

Tari tabot ini tidak mempunyai pakem. Sehingga, masing-masing kelompok pun bebas dalam membuat kreasi baru dengan tetap menyimbolkan suasana dalam perang di Karbala. 

Baca: Upacara Tabot dan Mengenang Husein Bin Ali Bin Abi Thalib

Biasanya, tari tabot ini ditampilkan dalam upacara tabot yang digelar setiap 1 s.d 10 Muharram atau bulan pertama dalam kalender Islam atau Hijriah, dan bertepatan dengan wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib. 

Berdasarkan sejarahnya, tradisi ini berasal dari orang-orang Syiah, salah satu sekte di kalangan umat Islam, dari Iran (Persia). Tradisi ini pun selanjutnya dibawa oleh pekerja Islam Syi’ah yang datang ke Bengkulu dan dibawa oleh tentara Inggris saat membangun Benteng Marlborough. 

Akan tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa upacara Tabot pertama dikenalkan di Bengkulu sekitar 1685-an oleh Syekh Burhanuddin atau Imam Senggolo yang dikenal sebagai penyebar Islam di Bengkulu.

Sementara untuk tari tabot Bengkulu sendiri menggunakan pengiring musik yang ada di Festival Tabot, yaitu dol atau bedug. Untuk gerakan dari tarian ini merujuk pada sembilan tahapan yang dilakukan saat ritual Tabot.

Sebagian dari penarinya akan membawa panji-panji, tombak, dan pedang, sedangkan yang lainnya membawa tabot. Untuk gerakan yang mereka tampilkan mulai dari melompat sana-sini, terlentang, duduk, dan berdiri kembali. Gerakan tersebut diketahui menggambarkan suasana senang, tegang, dan duka.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Bengkulu mulai kedatangan orang-orang Tionghoa, Jawa, dan daerah Sumatra lainnya. Mereka pun kemudian kawin-mawin hingga ikut mempengaruhi perubahan pemaknaan terhadap tabot.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

error: Content is protected !!