KOROPAK.CO.ID – Suku Asmat dikenal sebagai salah satu komunitas besar di Papua yang mendiami wilayah pesisir selatan pulau itu. Di tengah kondisi alam yang keras, masyarakat Asmat mempertahankan cara hidup yang tangguh sekaligus mewarisi kebudayaan yang kaya.
Salah satu warisan paling menonjol adalah seni ukir Asmat, yang kini dikenal luas hingga ke mancanegara. Bagi orang Asmat, ukiran bukan semata ekspresi estetika. Setiap pahatan memuat cerita tentang kehidupan, mulai dari kisah kepahlawanan, kepercayaan mistis, hingga aturan adat yang mengikat komunitas.
Ukiran menjadi medium untuk merawat ingatan kolektif, sarana pendidikan bagi generasi muda, sekaligus bentuk penghormatan kepada roh leluhur. Karena itu, seni ukir tak pernah terpisah dari keseharian masyarakat Asmat.
Ciri khas ukiran Asmat terletak pada detail yang rumit dan pengerjaan yang teliti. Motifnya banyak terinspirasi dari alam dan aktivitas hidup sehari-hari.
Bentuk hewan seperti burung cenderawasih, ikan, dan kelelawar kerap muncul, sementara figur manusia sering digambarkan tengah berburu, berperang, atau mencari ikan. Semua motif itu merefleksikan hubungan erat masyarakat Asmat dengan lingkungan dan leluhur mereka.
Setiap ukiran memiliki makna simbolik. Sebagian menjadi penanda kehadiran nenek moyang, sebagian lain mengekspresikan perasaan, baik suka maupun duka. Motif alam dan makhluk hidup mencerminkan keyakinan terhadap kekuatan alam, sekaligus menjadi simbol penghormatan terhadap para leluhur.
Kedalaman makna ini membuat unsur ukiran hadir dalam berbagai peralatan dan benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di luar fungsi ritual dan budaya, ukiran Asmat juga berkembang sebagai komoditas bernilai ekonomi. Panel-panel kayu berukir menjadi salah satu produk yang paling diminati.
Baca: Keunikan Suku Asmat, Terkenal ke Mancanegara
Biasanya digunakan sebagai hiasan dinding, panel ini menampilkan motif hewan atau pola tribal khas Asmat. Ukurannya yang relatif kecil membuatnya mudah dibawa wisatawan sebagai cendera mata. Di pasaran, panel berukuran kecil umumnya dijual dengan harga Rp200.000 hingga Rp300.000, sebanding dengan tingkat kesulitan pembuatannya.
Selain panel, patung bis yang melambangkan leluhur dan totem juga dikenal luas. Patung bis dibuat dari satu batang kayu utuh yang diukir menyerupai sosok manusia, sementara totem dibuat dari batang pohon yang diposisikan terbalik, dengan akar berada di bagian atas.
Akar tersebut melambangkan kesuburan dan memiliki makna simbolis yang kuat. Karena sifatnya sakral, patung bis dan totem biasanya ditempatkan di lokasi khusus, seperti jew atau pintu masuk kampung.
Meski seni ukir merupakan identitas budaya Asmat, tidak semua orang Asmat dapat menjadi pengukir. Keahlian ini diwariskan secara turun-temurun dan umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki.
Sementara para pria mengukir, perempuan biasanya mengerjakan aktivitas ladang. Namun, seiring perubahan zaman, seni ukir mulai dipelajari lebih luas. Bagi sebagian masyarakat Asmat modern, mengukir juga menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
Ukiran Asmat bukan sekadar karya seni, melainkan penanda jati diri dan kebanggaan budaya Indonesia. Melalui pahatan kayu yang sarat makna itu, kisah masyarakat Papua terus bergema hingga ke panggung dunia. Menjaga kelestarian seni ukir Asmat berarti merawat warisan budaya agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.











