Koropak.co.id – Kota ini menjelma jadi megapolitan. Ada di wilayah Jawa Barat dan jadi bagian penting penopang DKI Jakarta.
Bekasi namanya. Kota tempat tinggal kaum urban dan sentra industri. Kota terbesar keempat ini secara geografis berada di ketinggian 19 meter di atas permukaan air laut.
Mengapa kota ini disebut Bekasi? Dilansir dari buku Asal-Usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe, Bekasi bermula dari kata Candrabhaga.
Candrabhaga sendiri termasuk bagian Kerajaan Tarumanagara yang telah berdiri sejak 5 M. Candrabhaga terdiri dari dua kata, yakni candra yang berarti bulan (atau sasi dalma bahasa Jawa Kuno) dan bhaga yang artinya bagian.
Maka secara harafiah, Candrabhaga berarti bagian dari bulan. Namun pelafalannya kadang berubah menjadi Sasibhaga atau Bhagasasi. Sehingga dalam pengucapannya sehari-hari sering disering Bhagasi.
Adanya masa penjajahan Belanda turut mengubah pelafalan atau penulisannya, dari Bhagasi menjadi Bacassie. Lantas, kata Beccasie kemudian berubah menjadi Bekasi.
Bekasi, yang pada mulanya bernama Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, meupakan Ibukota Kerajaan Tarumanagara (358-669). Luas kerajaan inbi mencakup daerah Bekasi, Bogor, Cibinong, Depok, Sunda Kelapa, hingga Sungai Cimanuk di Indramayu.
Para ahli sejarah serta fisiologi berpendapat bahwa lokasi Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai Ibukota Tarumanagara saat ini ada di wilayah Bekasi sekarang.
Dayeuh Sundasembawa ini merpakan daerah asal Maharaja Tarushawa (669-723), yang merupakan pendiri Kerajaan Sunda yang seterusnya menutunkan raja-raja Sunda sampai generasi ke-40.
Baca : Bandung dan Jejak-jejak Sejarah yang Masih Ada
Sejarah mencatat jika Bekasi memberikan sumbangsih yang besar atas informasi terkait Tatar Sunda. Ditemukannya empat prasasti yang dikenal dengan Prasasti Kebantenan.
Keempat prasasti ini merupakan putusan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jayadewa 1482-1521) yang tertuang di atas lima lembar lempengan tembaga.
Sejak Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5), Kerajaan Galuh pada abad ke-8, serta Kerajaan Padjajaran di abad ke-14, Bekasi menjadi wilayah yang strategis sebagai penghubung sebab adanya pelabuhan Sunda Kelapa.
Peran penting Bekasi juga kian besar begitu memasuki masa Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan. Pada masa Hindia Belanda, Bekasi masih merupakan kawasan distric atau kawedanan dan termasuk ke dalam Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis, yang mana saat itu dikuasai tuan tanah peranakan Tiongkok
Keadaan tersebut berlanjut hingga kependudukan Jepang dan mereka melakukan Japanisasi, mengubah nama Batavia menjadi Jakarta dan Regenschap Meester Cornelis menjadi Ken Jatinegara.
Usai proklamasi, nama Ken diubah menjadi Kabupaten, Gun menjadi Kewedanaan, Son ialah Kecamatan, dan Kun merupakan Desa atau Kelurahan.
Tidak lama setelah pendudukan Belanda, kedudukan Bekasi dikembalikan menjadi kewedanaan. Kewedanaan Bekasi termasuk bagian Batavia En Omelanden.
Pada tahun 1950, Kabupaten Meester Cornelis berubah nama menjadi kabupaten Bekasi yang kemudian berkembang dan ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif pada tahun 1982.*
Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini











