Muasal

Jejak Sejarah dan Kiprah Paguyuban Pasundan dalam Budaya Sunda

×

Jejak Sejarah dan Kiprah Paguyuban Pasundan dalam Budaya Sunda

Sebarkan artikel ini

Koropak.co.id – Paguyuban Pasundan atau Pagoejoeban Pasoendan merupakan salah satu organisasi budaya Sunda yang tertua di Indonesia, didirikan pada tanggal 20 Juli 1913. 

Organisasi ini didirikan oleh Daeng Kanduruan Ardiwinata sebagai upaya untuk melestarikan budaya Sunda dan melibatkan semua pihak yang peduli terhadap budaya tersebut. 

Hingga kini, Paguyuban Pasundan tetap aktif dalam berbagai bidang seperti pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan.

Kelahiran Paguyuban Pasundan tidak terlepas dari pengaruh Budi Utomo, organisasi yang dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional Indonesia. 

Pada awalnya, banyak orang Sunda yang terlibat dalam Budi Utomo, namun setelah beberapa tahun, keanggotaan orang Sunda menurun karena organisasi tersebut dianggap kurang relevan bagi kepentingan sosial-budaya mereka.

Berangkat dari kebutuhan akan sebuah organisasi yang lebih fokus pada kepentingan orang Sunda, sekelompok siswa dari STOVIA, sekolah kedokteran zaman Belanda di Batavia (Jakarta), mengusulkan pendirian Paguyuban Pasundan. 

Mereka mengunjungi Daeng Kanduruan Ardiwinata di rumahnya di Gang Paseban, Salemba, Jakarta, pada 20 Juli 1913. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan untuk mendirikan Pagoyeban Pasoendan dengan D. K. Ardiwinata sebagai penasihat dan Dajat Hidajat sebagai ketua pertama.

Paguyuban Pasundan memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah pada 9 Desember 1914, dan sejak saat itu organisasi ini mulai berperan dalam bidang sosial-budaya. Namun, seiring waktu, Paguyuban Pasundan memperluas kiprahnya ke bidang politik. 

Pada tahun 1919, organisasi ini resmi diakui sebagai perkumpulan politik dan bergabung dengan PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia), menandai perubahan status dari perkumpulan lokal menjadi organisasi nasional.

Baca: Paguyuban Pasundan yang Bertahan di Setiap Zaman

Di bawah kepemimpinan Oto Iskandar di Nata, yang dikenal sebagai “Si Jalak Harupat,” Paguyuban Pasundan semakin memperkuat pengaruh politiknya dan mendirikan berbagai institusi pendidikan. 

Pada tahun 1922, mereka mendirikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pasoendan di Tasikmalaya, diikuti oleh pendirian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Hingga tahun 1941, Paguyuban Pasundan telah mendirikan 51 sekolah di seluruh Jawa Barat.

Di bidang ekonomi, Paguyuban Pasundan mendirikan Centrale Bank Pasundan pada tahun 1934 dan berbagai koperasi serta lembaga ekonomi lainnya. 

Selain itu, organisasi ini juga aktif dalam pemberdayaan perempuan melalui pendirian Pasundan Istri (PASI) dan dalam kepemudaan dengan mendirikan JOP (Jeugd Organisatie Pasoendan) pada tahun 1934.

Namun, selama pendudukan Jepang dari tahun 1943 hingga 1945, kegiatan politik Paguyuban Pasundan dibekukan. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, Paguyuban Pasundan kembali beroperasi, meski menghadapi tantangan dari berbagai pihak, termasuk dari Partai Rakyat Pasundan (PRP) yang dianggap sebagai pesaing.

Pada masa awal kemerdekaan, Paguyuban Pasundan sempat berubah nama menjadi Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI) pada tahun 1949, namun kemudian kembali ke nama Paguyuban Pasundan. Pada dekade 1960-an, organisasi ini fokus pada pendidikan dan sosial-budaya dengan mendirikan Universitas Pasundan pada 14 November 1960.

Saat ini, Paguyuban Pasundan memiliki berbagai institusi pendidikan, termasuk Universitas Pasundan, Sekolah Tinggi Hukum Pasundan, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pasundan, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pasundan. 

Organisasi ini terus berperan aktif dalam pelestarian kebudayaan Sunda dan pengembangan masyarakat di era globalisasi.

Baca juga: Sekilas IPM, Lahir di Tengah Situasi Politik yang Sulit

error: Content is protected !!